Rabu, 02 Mei 2012

Meluruskan Emansipasi Wanita yang Kebablasan







Sekarang Jadi Jurnalis Itu Gampang!!!


“Mendengar kata “jurnalis” pasti yang kamu pikirkan adalah seseorang yang pintar menulis dan juga pintar menganalisis. Maka untuk menjadi seorang jurnalis, kamu minimal harus punya dua syarat itu”
Jangan terburu-buru mengerutkan kening dan garuk-garuk kepala ya!, Karena, tau gak sih, kalau ternyata ada bentuk jurnalisme yang gak harus pakai dua syarat itu untuk menjadi seorang jurnalis lho.
Penasaran ya?. Emm..kerutan keningnya tolong diturunin dulu deh. Dan udah gak usah garuk-garuk kepala lagi.
Yah, langsung aja kita bahas. Jadi begini, sekarang ada yang namanya Jurnalisme Warga, ya kalau bahasa kerennya itu Citizen Journalism. Sudah pernahkah teman-teman semua mendengar istilah itu? Dan tau gak sebenarnya apa sih Citizen Journalism atau Jurnalisme Warga itu?
Berkenalan dengan Citizen Journalism
Nah, daripada bingung, yuk segera berkenalan dengan istilah yang satu ini. Tapi sebentar dulu, sebenarnya kamu sudah tau belum sih Citizen Journalism itu apa? Jika belum tau, maaf ya sebelumnya, saya harus bilang kalau kamu sudah ketinggalan zaman. Kenapa begitu, karena Citizen Journalism itu sudah mulai berkembang di Indonesia sejak 12 tahun yang lalu lho.
Teman-teman, tetap cool ya, santai saja tidak ada kata terlambat untuk belajar. Nah, makanya dilanjut dibaca ya tulisan ini.
Citizen Journalism atau Jurnalisme Warga adalah bentuk jurnalisme yang bisa dilakukan oleh warga biasa, oleh siapa saja, tanpa harus berpendidikan khusus jurnalistik atau memahami ilmu penulisan dan kewartawanan. Maksud dari warga biasa yaitu warga yang bukan menjadi jurnalis profesional.
Jadi sekarang teman-teman semua dengan Citizen Journalism, kamu bisa ikut menyajikan berita atau informasi kepada masyarakat luas. Sudah bukan waktunya lagi kamu hanya pasif mengkonsumsi berita, tapi sekarang kamu bisa ikut berpartisipasi aktif sebagai penyaji berita.
Sudah terbayangkah?, jadi dari penjelasan ini sudah mulai kelihatankan kalau sekarang jadi jurnalis itu gampang!!!
Nah, warga biasa yang ikut berperan aktif menyajikan berita atau informasi, punya julukan keren lho. Mereka akan mendapat julukan sebagai Citizen Journalist atau Jurnalis Warga.
Saatnya menjadi Citizen Journalist
Teman-teman, menjadi Citizen Journalist atau Jurnalis Warga itu juga sangat gampang lho, dan dengan menjadi Citizen Journalist kamu bisa melatih kemampuan menulis. Bekalnya pun tak kalah gampang, intinya kamu punya semangat dan keinginan untuk berbagi - spirit of sharing. Berbagi apa saja yang kamu ketahui dan temui dalam aktifitas sehari-hari. Mulai dari hal terdekat dan sederhana yang ada di sekitarmu.
Contoh gampangnya begini, tidak perlu mikir yang jauh-jauh ya. Misalkan, kalian bisa berbagi tentang siapa juru masak di asrama dan menu-menu makannya, aktifitas di asrama, sosok seorang ketua OPPK saat ini, atau pengalaman kamu ketika terlambat berangkat ke sekolah.
Membuat majalah dinding (mading) sekolah atau asrama, yang kamu isi dengan tulisanmu sendiri, itu berarti kamu sudah melakukan kegiatan Citizen Journalism. Namun sayang seribu sayang deh, kayaknya mading-mading sekolah sekarang ini gak jauh bedanya seperti klipping, cuma potong tempel dari koran atau majalah saja.
Nah, inilah contoh yang paling dekat, karena ini sedang dilakukan sekarang. Teman-teman bisa update status Facebook atau ngetwit di Twitter tentang acara ini, misalkan “sedang mengikuti acara bedah buku Jadi Jurnalis Itu Gampang!!! dan buku Kabar Dari Kesunyian di MAPK Solo”. Sesederhana ini, kamu berati sudah menjadi Citizen Journalist lho.
Semakin terbayangkan gampangnya menjadi jurnalis?
Yuk! mulai menggiatkan Citizen Journalism
Masih mikir apa lagi, mulai sekarang, setelah keluar dari ruangan ini, teman-teman yuk mari menggiatkan Citizen Journalism. Karena sebenarnya, entah sudah kamu sadari atau belum, banyak hal penting dan menarik lho disekitar lingkunganmu. Alangkah bermanfaatnya jika itu semua juga bisa diketahui oleh orang lain.
Sekarang sudah ada internet, di internet banyak media yang bisa kamu pakai untuk melakukan aksi Citizen Journalism. Facebook, Twitter, Blog, YouTube, Flickr (situs foto), dan situs-situs berkonsep Citizen Journalism yang mana siapa saja bisa mengirimkan tulisan apa saja, semua ini bisa kamu gunakan sebagai sarana untuk menyajikan berita atau informasi hasil karyamu.
Kamu punya foto tentang peristiwa kebakaran misalkan, bisa kamu upload di Flickr, Facebook, atau Twitter. Kamu memiliki rekaman video, bisa kamu upload di YouTube. Kamu menulis tentang sesuatu di sekitarmu, bisa kamu upload di blog.
Atau setidaknya beginilah teman-teman semua yang sekarang sudah semakin paham dengan Citizen Journalism. Misalkan hari ini kamu menemui sesuatu yang penting atau menarik, dan kamu belum sempat menulisnya dengan tulisan panjang, kamu bisa update status atau ngetwit tentang sesuatu itu terlebih dahulu.
Jadi mulai sekarang, paling gak ya beginilah, kalau teman-teman update status atau ngetwit isilah dengan informasi yang sekiranya bermanfaat bagi orang lain. Jadi jangan sampai isinya cuma curhat-curhat saja.
“aduhhhhh, laper nih…”
Hemm, emangnya kamu kenyang setelah update status atau ngetwit itu?!
Akan lebih bermanfaat jika isinya misalkan;
“hari ini mulai jam sembilan di MAPK lokal timur rame banget,
karena ada bedah buku”

Yap, mari menjadi lebih bijak menggunakan teknologi. Mari berbagi informasi apa saja yang ditemui dalam sehari-hari. Citizen Journalism itu sangat nikmat memikat, dan pastinya dengan Citizen Journalism jadi jurnalis itu gampang!!!. Allright!
*tulisan ini disampaikan pada acara STRATIK
di MAPK Solo. Ahad, 08 April 2012.

NB:
Penjelasan lebih lanjut, tentang serba-serbi Citizen Journalism
dan panduan praktis menjadi Citizen Journalist, dibahas dalam buku
berjudul Jadi Jurnalis Itu Gampang!!!, diterbitkan oleh Elexmedia Komputindo.
cetak A3 kover-oke
More Sharing..
FB. Imamfr Kusumaningati
T. @tigabelase  

Citizen Journalism dan Metamorfosis Media


Metamorfosis Media membawa sebuah penyajian berita tidak lagi menjadi eksklusif milik wartawan atau institusi pers. Tepat diujung Metemorfosis Media yang berkembang, menghasilkan sebuah media baru yang salah satunya berupa internet. Kecanggihan internet memungkinkan komunikasi yang lebih dinamis, karena kemampuannya melakukan komunikasi dua arah.
Metamorfosis Media juga menumbuhkembangkan sebuah bentuk jurnalisme gaya baru. Jurnalisme yang bisa dilakukan oleh siapa saja tanpa harus berpendidikan khusus di bidang jurnalistik, yaitu Citizen Journalism (Jurnalisme Warga). Warga bukan lagi menjadi sekadar objek, melainkan sekaligus menjadi subjek dari proses jurnalisme.
Media dengan berjalannya waktu mengalami sebuah metamorfosis atau perubahan bentuk secara perlahan namun pasti. Secara umum yang sering kita dengar, yaitu berawal dari media cetak, kemudian elektronik, hingga akhirnya sampai pada bentuk media online berupa internet yang sangat canggih.
Lukas Luwarso menjelaskan kecanggihan dari hasil metamorfosis media saat ini dengan pernyataannya bahwa media massa terus bertransformasi, era media tradisional menjelang usai. Era broadsheet membawa satu koran untuk satu pembaca; broadcast membawa satu acara ke jutaan pemirsa; broadband membawa jutaan media (cetak, siaran, dan cyber) ke satu orang.
Mendapati kecanggihan dari perkembangan teknologi media adalah karunia dari keberuntungan perjumpaan dengan zaman. Meski Citizen Journalism bukan lahir dari perkembangan ini, namun perjumpaannya dengan teknologi media yang canggih menjadikannya semakin populer dan tren. Metamorfosis media memberi kontribusi yang signifikan terhadap perkembangan Citizen Journalism (Jurnalisme Warga).
Media baru berupa internet berhasil menghadirkan ruang publik baru yang semakin luas. Menjadi lahan tumbuh suburnya Citizen Journalism (Jurnalisme Warga). Blog, Facebook, Twitter, Youtube, Flickr, Sosial Blog, dan situs-situs berbasis Citizen Journalism (Jurnalisme Warga) menjadi media yang empuk untuk Ber-Citizen Journalism.
Yang menarik, tumbuhkembangnya media mulai dari media cetak hingga media online yang sangat canggih, bukanlah menjadi sebuah ekosistem yang saling membunuh, melainkan justru terbentuk sebuah kolaborasi yang saling melengkapi. Kemunculan media baru memang selalu mendatangkan ancaman pada eksistensi media lama, namun perlu diingat itu tidak pernah benar-benar mematikannya. Allright!

Imam FR Kusumaningati
Penulis buku “Jadi Jurnalis Itu Gampang!!!
Serba-serbi tentang Citizen Journalism
dan panduan praktis menjadi Citizen Journalist untuk pemula (link).
FB: Imamfr Kusumaningati
T: @tigabelase
B: imamfrkusumaningati.wordpress.com
kesekolahlagi.blogspot.com

Antara Jurnalis Warga dan Jurnalis Profesional

Oleh Imam FR Kusumaningati (17 April 2012)


Jurnalis. Apa yang terbayang di pikiran dan apa yang menancap dalam benak ketika mendengarnya. Prestisius, bergengsi, hebat, pintar, cerdas, sedikit menakutkan, mungkin begitu.
Namun misalkan kata Jurnalis itu dibelakangnya dibubuhi dengan satu kata lagi, yaitu kata warga. Sehingga jika digabung menjadi “Jurnalis Warga”. Sekarang apa yang terbayang di pikiran dan apa yang menancap dalam benak ketika mendengarnya? Pikiran dan benak kita pasti memiliki jawaban masing-masing. Silahkan dishare bayangan dan tancapan apa yang anda alami dikolom komentar.
Mengisi kolom komentar, tanpa anda sadari sebenarnya anda sudah menjadi apa yang disebut jurnalis warga itu. Karena kolom komentar itu merupakan salah satu dari bentuk jurnalisme warga (Citizen Journalism). Steve Outing, seorang editor senior The Poynter Institute for Media Studies dalam tulisannya berjudul The 11 Layers of Citizen Journalism yang diterbitkan pada tahun 2005, menjelaskan bahwa salah satu dari bentuk jurnalisme warga adalah situs yang membuka komentar untuk berita yang ditulis oleh jurnalis professional - Opening Up to Public Comment.
Baik, kedengarannya memang sedikit tabu untuk saat ini. Seolah sebuah profesi berlabel “jurnalis” yang dianggap sakral itu menjadi begitu mudah. Padahal, secara nyata memperoleh label profesi “jurnalis” itu perlu menempuh pendidikan dengan perjuangan dan pengorbanan yang panjang.
Yah, memang begitu untuk label “jurnalis profesional” – sulit dan tidak mudah, namun tidak halnya untuk “jurnalis warga”. Karena jurnalis warga dalam konsep jurnalisme warga dasarnya adalah berbagi. Berbagi apa yang diketahui atas sebuah informasi. Tentu informasi yang dimaksud bukanlah sekadar curahan hati belaka, melainkan informasi yang penting untuk diketahui oleh publik. Makanya menjadi jurnalis warga itu mudah dan bisa dilakukan oleh setiap warga, oleh siapa saja.
Berbeda halnya oleh jurnalis profesional yang bekerja di maisntream media. Banyak standar yang harus ditaati dan dilaksanakan. Bahkan sebelum melakukan liputan, sudah ada memo dari redaktur seolah menjadi kartu pesanan untuk sebuah hasil liputan berita. Karena sebenarnya yang dilakukan oleh jurnalis profesional adalah sebuah penugasan.
Clyde H. Bentley guru besar madya Sekolah Tinggi Jurnalistik Missouri AS, menjelaskan perbedaan nyata antara jurnalis warga dan jurnalis profesional adalah seorang jurnalis warga menuliskan pandangannya atas suatu peristiwa karena didorong oleh keinginan untuk membagi apa yang dilihat dan diketahuinya. Sementara jurnalis profesional yang bekerja di media massa, melakukan liputan karena penugasan.
Dari pandangan itu, terlihat dengan jelas bahwa sebenarnya bentuk dasar peliputan yang dilakukan jurnalis warga adalah to share dan yang dilakukan jurnalis profesional adalah to cover.
Antara jurnalis warga – to share dan jurnalis professional – to cover, dalam hal peliputan, bentuk inilah yang membedakan secara nyata, jelas, dan gamblang.
Oke..salam sharing!


Imam FR Kusumaningati
Penulis buku “Jadi Jurnalis Itu Gampang!!!
Serba-serbi tentang Citizen Journalism
dan panduan praktis menjadi Citizen Journalist untuk pemula (link).
FB: Imamfr Kusumaningati
T: @tigabelase
B: imamfrkusumaningati.wordpress.com
kesekolahlagi.blogspot.com

Rabu, 18 April 2012

The Miracle of Tahajjud

Oleh Rian Afgan

The First Habit of doing Tahajjud Prayer exactly begun while before                        coming The Prophethood of  Our Prophet Muhammad saw. and at that time he was restless and worried. As a pious and brightly hearted, a middle aged man had felt how the decline of moral life in Mecca at the time.
Slavery, Robbery, Violation, Oppression of woman and all other vices made life unpleasant. “What should I do? what exactly I must do?” those are questions arised from Rasulullah’s mind.
Thus, in one night and in one place namely Hiro’ Cave, Muhammad aloned and contemplated all of incident which it has been befallen him and his Homeland in Mecca. From the midnight until the morning came, Muhammad saw. felt really deep sadness and letted on what was going on with his creator and his place of birth.
And then, Allah sent the angel Jibril to accompanied him and taught some ayat of surah Al-Alaq. Surely, all af Moslem in the world have known that event as the first revelation of Holy Qur’an. Then on subsequent night, he often did his solitary activity as the daily activity that essentially he wanted to say that he was only human being, and nothing he could do except because of helps from Allah swt.
The Solitary activities are named by Night Praying today and then usually done by the Prophet followers when experiencing various problems that they feel hard and heavy to bear.
But today, since the habit of tahajjud prayer appeared until the last decade, nobody knows eventhough the Moslems about what exactly will happen when they do pray tahajjud. Indeed, many scholars said that praying can repair morals. But, how does all this take place? This prompted Prof. Sholeh doing research on Tahajjud Prayer. The man of Lirboyo Boarding School graduated, Kediri in the year of 2000, researching about 51 Students of Senior High School Luqman Hakim in Hidayatullah Boarding School, Surabaya.
In the Study conducted by The Faculty of Tarbiyah Lecturer and Professor of the graduate program of the state Islamic institute (IAIN) Sunan Ampel Surabaya, Prof. Dr. Mohammad Sholeh, Drs., M.Pd., had proved that Tahajjud Prayer which it run with a precise movements, routine, and of course with sincerity can boost the immune body system.
Prof. Sholeh said that the research had done in the year of 2000 during one semester in order to completed his doctoral studies in The University of Airlangga, Surabaya. “so, this is for a dissertation”, explained the father of two children.
 Sholeh selected a dissertation under the title “The Influence of Tahajjud Prayer Against Increasing The Resilience Body Changes in Immunologic Response: An approach Psychoneuroimmunology.”
“I ask them all to pray Tahajjud for two whole months every day.” Explained the man who completed S2 in the field of Counseling Pshychology in IKIP Malang. It taked by a number of praying is not too much and not too little, 2 rakaat salam for 4 times and 3 or 1 rakaat of witir (a total is 8 rakaat), they should run it at 2:00 until 3:00. Of course not all will be success, from 51 student was researched, they will be sorted again.
Turn of 51 student, 23 people could only survive doing Tahajjud Prayer for a month, along with the others who did not qualify for reasons such as praying was not  completed until two months although it can exceed a month or less than a month. Drinking kortikisteroid medication, doing another job besides tahajjud that affecting body system such as Adz-dzikr. All 23 student was used as one group.
Finaly, only 19 students ware able to survive Tahajjud Prayer for two month/. So there were two groups. Those who made it until two months without the additional of another activities and those who didn’t made it. And the nineteenth students, according Sholeh have fundamentally changed which it changes their Immune Body.
So now, when people talk that tahajjud prayer can improve one’s moral level, there is another reason that can be raised with a lot of senses. In the right praying, doing by sincere and resigned and routine, it will make a person healty physically and psychologically. Peace of heart, mind, soul, and tranquility will be the basic of the status of those who pray diligently. People can think logically, maturely, and actually makes sense. People become aware of themselves and not arbitrarily.
In additional, all of illness would be reluctant to stop and suffer to the body of those who pray tahajjud diligently, because of his Immune Body System increased rapidly.
So, it’s a fact and we can say that tahajjud prayer is so important for us, because there are many benefits for us as it has been described in Holly Al-Qur’an, surah Al-Israa verse 79, and the research is one of benefits that we have known it. Sometimes we always underestimate about something which it has extraordinary benefits than we imagine before, besides Allah will never order us to do something except it is usefull and important for ev