Nama sy Sri, panjangnya Srikandi. Jgn pernah membayangkan sy perempuan
tangguh macam tokoh pewayangan Jawa. 'Kelamin' saya netral. Ah, tak usah
berpanjang lebar membahas 'kelamin'. Ada yg lebih penting drpd 'kelamin'. Hati.
Jelas jika sy adalah manusia. Bukan hewan, malaikat, apalagi setan. Anehnya
kadang sy merasa ketiga entitas itu ada pd jiwa. Melihat orang buntung kakinya,
tiba-tiba menitikkan air mata. Andai org itu sy, tentu tak ada jaminan sy bisa
setegar ia menghadapi hidup. Di episode lain sering sy marah atau tersinggung
dgn hanya diamnya sahabat sy. Meminta perhatian lebih tepatnya. Sy egois,
padahal sudah pasti ia mempunyai urusan yg lebih penting dr sensitifitas sy.
Seringkali sy menuruti bisikan sesaat entah oleh apa atau siapa.
Kenal Zombi? Secara fisik ia bergerak namun jiwanya telah mati. Sehingga ia
tak bisa membuat beda mana baik dan atau buruk. Sy tahu, sy bukan moralis.
Bahkan sering perasaan dan pikiran sy amoral. Namun ijinkan sy menuliskan
sebuah kesadaran. Kita bukan Zombi. Dalam tradisi kenabian, pertama kreasi
Tuhan adalah akal. Suatu daya yg tepatnya disebut hati. Memiliki fitrah utk
selalu taat pd Tuhan.
Hati: tempat fitrah kemanusiaan kita. Tempat ilham kebenaran anugerah
Tuhan. Langit, bumi tak dapat menampung Tuhan. Namun hati mampu melakukannya.
Tempat survival. Tugas hati adalah berusaha mendahulukan kasih sayang utk orang
lain. berupaya utk berbuat baik. Hati tempat segala cinta. Secara anatomi hati
bukan jantung atau liver. Ia merupakan suatu daya non material.
Pengalaman hidup selalu mengajarkan, "Selalu ada hikmah di balik
setiap ujian atau musibah." Mantra sakti ini silahkan dibawa ke mana dan
kapan saja. Bukankah Allah mencipta nafsu juga? Nafsu terdorong krn egoisme.
Nafsu juga menuntut obyektifitas. Acapkali terjadi pengaburan hati dan nafsu.
Cara praktis utk membedakan keduanya adalah, nafsu mengajak egois. Hati
menggiring utk menyayangi.
Sy katakan semua kalimat di atas adalah teori. Tidak mudah utk tegas dan
konsisten melaksanakannya. Bukankah esensi hidup ini menjihadkan nafsu utk
menjadi kawan sejati? Bukan kita diarahkan secara membabi buta melakukan
kesenangan fisik semata! Munafik jika sy katakan perut ini tidak butuh makanan.
Mata ini enggan terhadap kenikmatan yg menjerumuskan pd lorong kesesatan.
Telinga memperdengarkan suara tunggal. Tanpa mau tahu ada suara-suara lain yg
butuh perhatian. Suara di luar kebutuhan dan keinginan kita.
Jika kita ditimpa suatu ketidaksenangan menurut anggapan. Yakin saja ada
sebuah kado indah di ruang dan waktu yg berbeda atau bahkan balasan yg
melampaui ruang dan waktu itu sendiri. Semua amal tak kan pernah luput dr kaca
mata Sang Pencipta. Akan ada balasan dari-Nya. Tanamkan dlm hati kita bahwa
imbalan hidup yg tertunda menyimpan kebaikan besar.
Tips dan trik menjaga kebugaran hati adalah dgn melakukan kepedulian. Mampu
mencari makna di setiap kejadian. Baik peristiwa yg membahagiakan atau
menyedihkan. Dgn begitu kita tidak mudah dibuat 'sakit' oleh peristiwa. Sebab
hidup adalah serentetan peristiwa mengambil dan memberi.
Sikap pertengahan sangat dibutuhkan. Sepi saat di tengah keramaian. Rendah
hati dan diri di hadapan Tuhan, bahwa dr Dia-lah segala pemberian. Atau ramai
saat sendiri. Segala sesuatu di dunia mencitrakan Dia. Semua entitas tunduk dan
patuh pd aturan main-Nya. Segalanya bersujud pada-Nya, suka tidak suka.
Kita adalah karya agung-Nya. Belajar memuasakan jasmani adalah solusi
terakhir. Pahit memang namun tak ada pilihan. Bagaimana tidak sakit? Disuruh
mencinta tapi saat yg sama siap-siap utk berpisah. Entah oleh kepunahan atau
keegoisan. Iya, puasa. Ngantuk, namun mengorbankan bangun tiap malam utk
menyapa-Nya. Sayang, dgn sesuatu atau seseorang. Secara formal saja, di batin
jangan. Tidak enak hati jika Pemilik batin cemburu. Bisa repot nanti.
Closing powernya: mendengar suara hati sumber kemampuan utk sllu mengambil
pilihan yg benar. Dgn meluruskan niat dan peduli orang lain.
Note ini rangkuman dr Life is Beautiful with Haidar Bagir. Tiap Jum'at, pukul 07.00
am, berganti lagu yg dibedah. Kali ini Listen to
Your Heart dr Roxette. Mohon maaf bagi yg sempat baca jika ada tranver ilmu yg menyalahi.
Tulisan dan pembicaraan adalah dua media komunikasi yg berbeda. Butuh
keterampilan utk keduanya. Pointnya, kalimat-kalimat di atas adalah sebagai
pengingat, khususnya utk si pencatat. Begitu banyak emosi yg butuh utk
dibudidayakan atau nama lainnya disensasikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar