“Hidup adalah proses bertanya, jawaban hanyalah singgahan dinamis
yang bisa berubah seiring dengan berkembangnya pemahaman kita, namun
pertanyaanlah yang membuat kita terus maju” (Dee-Madre).
Belum lama ini,
lembaga kemahasiswaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerjasama dengan kampus
yang diwakili oleh pihak rektorat dan beberapa dosen yang memiliki peranan
penting di tingkat Universitas, Fakultas, dan Jurusan menyelenggarakan hajat
besar yang dilaksanakan satu tahun sekali yang disebut dengan PEMIRA (Pemilu
Raya). Kegiatan ini bertujuan untuk memilih pemimpin baru di sebuah lembaga
kemahasiswaan yang sudah ada sebelumnya yang dinamakan BEM (Badan Eksekutif
Mahasiswa) di tingkat Fakultas maupun Jurusan yang kini seiring perubahan yang
terjadi telah berganti nama menjadi Himpunan Mahasiswa.
Namun, tidak
sehebat namanya yang digaungkan di seantero kampus, ada yang berbeda dari
tahun-tahun sebelumnya yakni tidak adanya pemilihan pemimpin yang baru untuk
tingkatan Universitas, ini dikarenakan masih belum terselesaikannya konflik
internal yang sudah menjamur hampir lebih dari satu tahun antar dua lembaga
kemahasiswaan yang bernaung dalam sebuah payung partai politik berbeda latar
belakang yang saling berseteru dalam memperebutkan kursi kepemimpinan di
tingkat Universitas.
Sungguh ironis
memang, tapi beginilah kenyataan pahit sesungguhnya terjadi di lingkungan
kampus tercinta yang notabene sejatinya mereka adalah mahasiswa yang memiliki
label kaum intelektual, kaum akademis, kaum terpelajar, agent social of
change, wakil dari jeritan suara-suara rakyat, generasi muda harapan
bangsa, Negara, dan Agama, penerus cita-cita luhur para pahlawan bangsa yang
telah berjuang sampai titik darah penghabisan demi terbentuknya kedaulatan
Negara Republik Indonesia yang sejahtera, adil, dan makmur. Apa sebenarnya yang
menyebabkan hal demikian bisa terjadi dikalangan kawan-kawan mahasiswa? apa
yang mereka cari? ini menarik, namun sekaligus menjadi satu bentuk keprihatinan
luar biasa dari suatu realitas kondisi yang tak patut dibanggakan.
Sebuah refleksi
yang patut kita jadikan sebagai bahan renungan yang mendalam, tentunya dalam
hal ini, terkikisnya sebuah nilai moralitas yang terdapat dalam diri sebagian
kawan-kawan mahasiswa bisa menjadi penuntun perbincangan kita mencari penyebab
terjadinya kondisi seperti ini yang sama sekali benar-benar tidak menguntungkan
bagi kawan-kawan mahasiswa secara keseluruhan.
Organisasi adalah sekelompok
orang (dua atau lebih) yang secara formal dipersatukan dalam suatu kerjasama
untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Seperti keberadaan organisasi
intra maupun ekstra di sebuah kampus, bagaimana kondisi individu yang heterogen
bersatu dan bekerjasama dalam menghasilkan
suatu yang disebut karya yang berguna untuk kepentingan komunitas tersebut dan
membias kepada mahasiswa secara keseluruhan atas dasar perubahan sosial yang
lebih baik. Setiap
organisasi kemahasiswaan dalam sebuah kampus harus memiliki tujuan, diantanya membangun
integritas kepribadian mahasiswa, memperluas wawasan yang bersifat akademis
maupun non akademis, pengabdian kepada masyarakat, serta membina,
mengembangkan, dan menyalurkan kegemaran maupun potensi mahasiswa dalam rangka
meningkatkan kualitas potensi mahasiswa.
Banyak manfaat
yang bisa diperoleh ketika berperan dalam suatu kegiatan organisasi
kemahasiswaan tertentu, salah satunya di organisasi intra kampus yang biasa
disebut badan eksekutif mahasiswa ataupun himpunan mahasiswa. Di sanalah kita
bisa mengembangkan segala bentuk potensi yang ada dalam diri kita. Organisasi
juga dikatakan merupakan salah satu pilar pembentuk karakter mahasiswa. Namun,
apa jadinya ketika sebuah organisasi kemahasiswaan dipimpin oleh kepentingan
kekuasaan, material dan kemudian menghambakannya. Pertanyaan selanjutnya adalah
apakah kepentingan kekuasaan dan material yang dihambakan dalam sebuah
organisasi kemahasiswaan akan membawa azas manfaat yang besar bagi mahasiswa
sebagai kader masa depan penerus bangsa. Dalam hal ini perlu adanya kejujuran
yang lapang untuk melakukan perubahan paradigma pemikiran dan dalam
mempertahankan eksistensi sebuah organisasi, karena sesungguhnya ruh kehidupan
dalam sebuah organisasi adalah ide yang teraplikasikan dalam wujud perbuatan
positif. Mengutip pernyataan sang Proklamator Republik Indonesia Soekarno
bahwa: "Sebuah organisasi harus dipimpin oleh ide, menghikmati ide,
memikul ide, dan membumikan ide." Adapun organisasi hari ini dipimpin oleh
uang, menghikmati uang, memikul uang, dan membumikan uang. Tak ada organisasi
yang sungguh-sungguh memperjuangkan aspirasi kolektif kemahasiswaan demi
kemaslahatan hidup bersama. Oleh karena itu, mari kita pahami dengan aplikasi
sikap yang benar bahwa organisasi kemahasiswaan merupakan sebuah bentuk
tanggung jawab atas amanat yang dipercayakan kawan-kawan mahasiswa yang tidak
ikut terlibat langsung, bukan sebagai sebuah simbol kekuasaan semu yang akan
menghancurkan nilai-nilai idealisme sebagai mahasiswa. Wallahu’alam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar