Rabu, 18 April 2012

“Refleksi PEMIRA Kampus, Revitalisasi Organisasi Kemahasiswaan; Antara Kekuasaan dan Tanggung Jawab”

Oleh: Ade Suryana  on fk2i discussion,, 10 april 2012


“Hidup adalah proses bertanya, jawaban hanyalah singgahan dinamis yang bisa berubah seiring dengan berkembangnya pemahaman kita, namun pertanyaanlah yang membuat kita terus maju” (Dee-Madre).
Belum lama ini, lembaga kemahasiswaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerjasama dengan kampus yang diwakili oleh pihak rektorat dan beberapa dosen yang memiliki peranan penting di tingkat Universitas, Fakultas, dan Jurusan menyelenggarakan hajat besar yang dilaksanakan satu tahun sekali yang disebut dengan PEMIRA (Pemilu Raya). Kegiatan ini bertujuan untuk memilih pemimpin baru di sebuah lembaga kemahasiswaan yang sudah ada sebelumnya yang dinamakan BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) di tingkat Fakultas maupun Jurusan yang kini seiring perubahan yang terjadi telah berganti nama menjadi Himpunan Mahasiswa.
Namun, tidak sehebat namanya yang digaungkan di seantero kampus, ada yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yakni tidak adanya pemilihan pemimpin yang baru untuk tingkatan Universitas, ini dikarenakan masih belum terselesaikannya konflik internal yang sudah menjamur hampir lebih dari satu tahun antar dua lembaga kemahasiswaan yang bernaung dalam sebuah payung partai politik berbeda latar belakang yang saling berseteru dalam memperebutkan kursi kepemimpinan di tingkat Universitas.
Sungguh ironis memang, tapi beginilah kenyataan pahit sesungguhnya terjadi di lingkungan kampus tercinta yang notabene sejatinya mereka adalah mahasiswa yang memiliki label kaum intelektual, kaum akademis, kaum terpelajar, agent social of change, wakil dari jeritan suara-suara rakyat, generasi muda harapan bangsa, Negara, dan Agama, penerus cita-cita luhur para pahlawan bangsa yang telah berjuang sampai titik darah penghabisan demi terbentuknya kedaulatan Negara Republik Indonesia yang sejahtera, adil, dan makmur. Apa sebenarnya yang menyebabkan hal demikian bisa terjadi dikalangan kawan-kawan mahasiswa? apa yang mereka cari? ini menarik, namun sekaligus menjadi satu bentuk keprihatinan luar biasa dari suatu realitas kondisi yang tak patut dibanggakan.
Sebuah refleksi yang patut kita jadikan sebagai bahan renungan yang mendalam, tentunya dalam hal ini, terkikisnya sebuah nilai moralitas yang terdapat dalam diri sebagian kawan-kawan mahasiswa bisa menjadi penuntun perbincangan kita mencari penyebab terjadinya kondisi seperti ini yang sama sekali benar-benar tidak menguntungkan bagi kawan-kawan mahasiswa secara keseluruhan.
Organisasi adalah sekelompok orang (dua atau lebih) yang secara formal dipersatukan dalam suatu kerjasama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Seperti keberadaan organisasi intra maupun ekstra di sebuah kampus, bagaimana kondisi individu yang heterogen bersatu dan bekerjasama dalam  menghasilkan suatu yang disebut karya yang berguna untuk kepentingan komunitas tersebut dan membias kepada mahasiswa secara keseluruhan atas dasar perubahan sosial yang lebih baik. Setiap organisasi kemahasiswaan dalam sebuah kampus harus memiliki tujuan, diantanya membangun integritas kepribadian mahasiswa, memperluas wawasan yang bersifat akademis maupun non akademis, pengabdian kepada masyarakat, serta membina, mengembangkan, dan menyalurkan kegemaran maupun potensi mahasiswa dalam rangka meningkatkan kualitas potensi mahasiswa.
Banyak manfaat yang bisa diperoleh ketika berperan dalam suatu kegiatan organisasi kemahasiswaan tertentu, salah satunya di organisasi intra kampus yang biasa disebut badan eksekutif mahasiswa ataupun himpunan mahasiswa. Di sanalah kita bisa mengembangkan segala bentuk potensi yang ada dalam diri kita. Organisasi juga dikatakan merupakan salah satu pilar pembentuk karakter mahasiswa. Namun, apa jadinya ketika sebuah organisasi kemahasiswaan dipimpin oleh kepentingan kekuasaan, material dan kemudian menghambakannya. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah kepentingan kekuasaan dan material yang dihambakan dalam sebuah organisasi kemahasiswaan akan membawa azas manfaat yang besar bagi mahasiswa sebagai kader masa depan penerus bangsa. Dalam hal ini perlu adanya kejujuran yang lapang untuk melakukan perubahan paradigma pemikiran dan dalam mempertahankan eksistensi sebuah organisasi, karena sesungguhnya ruh kehidupan dalam sebuah organisasi adalah ide yang teraplikasikan dalam wujud perbuatan positif. Mengutip pernyataan sang Proklamator Republik Indonesia Soekarno bahwa: "Sebuah organisasi harus dipimpin oleh ide, menghikmati ide, memikul ide, dan membumikan ide." Adapun organisasi hari ini dipimpin oleh uang, menghikmati uang, memikul uang, dan membumikan uang. Tak ada organisasi yang sungguh-sungguh memperjuangkan aspirasi kolektif kemahasiswaan demi kemaslahatan hidup bersama. Oleh karena itu, mari kita pahami dengan aplikasi sikap yang benar bahwa organisasi kemahasiswaan merupakan sebuah bentuk tanggung jawab atas amanat yang dipercayakan kawan-kawan mahasiswa yang tidak ikut terlibat langsung, bukan sebagai sebuah simbol kekuasaan semu yang akan menghancurkan nilai-nilai idealisme sebagai mahasiswa. Wallahu’alam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar